0
Salin link untuk situs XXX
url
Showing posts with label DUNIA ISLAM. Show all posts
Showing posts with label DUNIA ISLAM. Show all posts
0
Published on
04:57
Category:
DUNIA ISLAM
Sedangkan saya, sedikit beruntung bisa berani menyuarakan hal ini melalui blog dan GoVlog Ramadhan ini.
0
Published on
07:36
Category:
DUNIA ISLAM
Itu adalah kampung para abdi dalem Keraton. Namanya, Kampung Dondongan. Para abdi adalah keturunan Nyai Pringgit yang berjasa besar memberikan bedug untuk Masjid Kota Gede. Bedug tua pemberiannya, hingga kini masih lestari. Terus dibunyikan sebagai penanda waktu salat. Padahal, usia bedug itu tak kalah tua dengan masjid, yang dibangun sekitar tahun 1640.
"Warga yang tinggal di kampung ini adalah abdi dalem Dondong, mereka adalah keturunan orang pertama yang membawa bedug untuk Masjid, sejak masa Raja Mataram pertama Panembahan Senopati (1578 M)," kata Mas Bekel Hastono Raharjo, Abdi Dalem Juru Kunci Kraton Yogyakarta, kepada VIVAnews.com, Minggu 7 Agustus 2011.
Dia menceritakan, Nyai Pringgit datang dari Desa Dondong, daerah perbatasan antara Kulonprogo dan Purworejo. Atas jasanya itu, anak cucunya diberi tempat sebagai abdi dalem, tugasnya mengurus masjid dan juga makam para raja. Nama kampung para abdi dalem disesuaikan dengan asal nenek moyangnya, Dondongan. "Kampung ini adalah pemukiman abdi dalem Kraton tertua," kata Mas Bekel.
Profesi abdi dalem diwariskan secara turun-temurun. "Kami menjadi abdi dalem juru kunci secara turun temurun. Anak-anak di sinipun nanti juga tetap akan menjadi abdi dalem," ujarnya.
Di bulan Ramadan, para abdi dalem memiliki tradisi tadarus. Selesai tarawih, para abdi dalem Kraton Yogyakarta yang bertugas sebagai juru kunci makam, membaca kitab suci Al Quran di pelataran makam raja-raja Mataram. Tadarusan dilakukan hingga selikuran atau malam ke-21 Ramadan. (ren)
0
Published on
07:33
Category:
DUNIA ISLAM
Jumat, 5 Agustus 2011 malam, ketua panitia pembangunan Masjid Nurussalam, Antok Koesharijanto, tiba-tiba kedatangan seorang lelaki yang menolak menyebut jati dirinya. Kepada panitia, lelaki misterius itu memberikan Al Qur'an yang disebutnya bisa membantu mewujudkan pembangunan masjid, Uniknya, kitab suci itu terbuat dari daun lontar.
Kata Antok, kejadian tak biasa itu tidak disangka-sangka. "Dan, itu terjadi hari Jum'at kemarin," kata Antok mengawali ceritanya kepada VIVAnews.com ditemui usai salat tarawih, Minggu malam, 7 Agustus 2011.
Jauh sebelum kejadian aneh itu, cerita Antok, warga yang bermimpi mendirikan masjid di kampung mereka sepakat menggalang dana untuk membebaskan lahan, lalu membangun masjid di atasnya. Urusan lahan sudah beres, namun dana untuk membangun masjid tak ada.
Pria misterius itu seperti membuka jalan. Antok masih mengingat dengan jelas pertemuan pertamanya dengan sosok tersebut. Ia datang malam hari dan hanya menyebut dirinya hamba Allah.
"Dia menemui kami sambil memberikan kitab suci Al Qur'an yang tertulis di daun lontar. Sosok tersebut mengatakan ‘Ini mudah-mudahan
bisa membantu mempermudah mewujudkan pembangunan masjid,” terang Antok yang diamini sejumlah panitia lainnya.
Kitab kuno yang diperkirakan dibuat pada tahun 1400 M, di masa Majapahit. Oleh panitia, kitab tersebut ditaruh di lokasi bakal didirikannya masjid di perkampungan padat itu.
Sejak itu, cerita dari mulut ke mulut terus merembet. Keberadaan kitab 'tiban' itu mengundang perhatian dan kedatangan banyak orang. Seiring dengan itu, sumbanganpun mulai mengalir, meski belum mencukupi untuk kebutuhan alokasi anggaran. Dan, panitia pun terus berharap ada donatur yang mau membantu mewujudkan pembangunan rumah ibadah di kawasan itu.
“Melalui sampeyan semua, kami berharap banyak donator yang terketuk menyumbang untuk mewujudkan pembangunan masjid di tempat ini,” harap panitia.
Sementara, dirunut dari mana dan siapa yang memberi kitab tersebut panita tidak menyebutkan. “Maaf, itu pesan yang memberi kitab unik ini, jadi saya tidak bisa menceritakan siapa jati dirinya,” urai Antok.
Terlepas dari semua penafsiran, keberadaan kitab kuno itu kini bertengger di lemari kaca di lokasi pembangunan masjid. Al Qur'an kuno itu berukuran memiliki tinggi 50 cm, lebar 40 cm dan tebalnya sekitar 10 cm dengan goresan tinta hitam terukir di tiap daun. Lontar yang memilik lebar 2 cm terangkai rapi oleh benang senar. Sampulnya dari kulit kerbau landu atau kerbau kawin silang.
Saat diberikan ke panitia, kitab terbungkus kain menyerupai sajadah berwarna perak, yang konon tahan api. “Kain pembungkusnya tidak mempan dibakar, itu sudah kami buktikan,” sahut anggota panitia lainnya. (Laporan: Tudji Martudji, Surabaya)




