TANAH MAS, Semarang

0




Golden Land, itu adalah istilah yang sering digunakan oleh beberapa teman yang saat ini masih tinggal di perumahan Tanah Mas di kota Semarang, istilah ini sering dipergunakan karena nama Tanah Mas terlanjur identik dengan banjir rutin dan rusaknya jalan lingkungan.

Menurut informasi, Tanah Mas adalah konsep perumahan pertama yang dipasarkan dengan system KPR BTN sejak awal tahun 1970 an. Perumahan ini dikembangkan oleh seorang “entreperenure sejati, bapak Djamin, yang seorang mantan sopir truk”. Dan merupakan perumahan dengan lokasi yang sangat strategis, bahkan sampai sekarang. Perumahan ini hanya berjarak 2 km dari Stasiun Poncol, 3 km dari Tugu Muda dan kurang dari 4 km dari Pasar Johar, pasar terbesar dan tertua di kota Semarang. Dipasarkan dengan luas tanah 100m2 (type C), 120 m2 (type CM) dan type B dan A dengan ukuran tanah dan bangunan yang lebih besar.

Kemunculan Tanah Mas membuka pandangan baru tentang konsep rumah bagi kebanyakan orang Semarang dan sekitarnya, rumah rumah yang tersusun rapi dan nyaris seragam bentuknya dalam satu blok, dengan pohon penghijauan yang tertata rapi menghiasi sepanjang jalan lingkungan yang ada diperumahan saat itu, betul betul merupakan konsep baru.

Dalam waktu singkat, perumahan ini menjadi dambaan dan tujuan keluarga professional muda yang bekerja di Semarang dan sekitarnya sehingga kalau kita amati, penghuni perumahan ini berasal dari banyak kota, baik di Jawa Tengah maupun luar Jawa Tengah.

Bertahun tahun Tanah Mas menjadi kebanggaan bagi penghuninya dan tentunya harga jual pun merambat naik, bahkan ketika beberapa perumahan baru mulai muncul, Tanah Mas tetap merupakan perumahan favorit. Perumahan Bukit Sari diawal pemasarannya, harga jual tanahnya per m2 masih lebih murah dari Tanah Mas, begitu juga perumnas Banyumanik.

Tahun 1983, harga jual tanah sekitar Rp. 60.000,- per m2 (untuk rumah type CM, dengan luas 120 m2). Saat itu harga jual tanah di Jalan Imam Bonjol masih sekitar Rp. 50.000,-

Bersamaan dengan pembangunan perumahan baru dikawasan pantai kota Semarang sekitar tahun 1987, maka “tetangga dekat” mulai main kerumah, “air pasang laut” mulai merambah jalan jalan lingkungan, dan dibeberapa blok mulai masuk ke halaman dan bahkan kedalam rumah.

Beberapa tetangga saat Siskamling saat itu sempat menyalahkan pembangunan perumahan Puri Anjasmoro, kata mereka akibat Puri Anjasmoro diurug, maka air laut naik dan Tanah Mas banjir. Benarkah?

Tentunya salah karena pengurugan pantai tidak menaikkan muka air pasang, karena misalnya luasan yang diurug = 100 HA, rata rata diurug 5m. Volume urugan = 1.000.000 x 5 = 5.000.000 m3 (jumlah yang terlihat sangat besar). Tetapi urugan tersebut masuknya bertahap, dan air laut yang dipindahkan oleh urugan tersebut disebar ke seluruh permukaan laut yang luasnya ribuan km2 … jadi kenaikan air laut tidak akan lebih dari 1 – 5 mm.

Naiknya muka air laut lebih banyak disebabkan oleh penurunan tanah yang disebabkan pemadatan tanah asal yang berupa tambak dan tanah urug itu sendiri, kecepatan penurunan tanah dipercepat oleh pengambilan air tanah yang berlebihan http://green.kompasiana.com/iklim/20...n-tenggelam-1/ dan http://green.kompasiana.com/iklim/20...n-tenggelam-2/

1988, Desember tahun 1988 saat Semarang diguyur hujan yang sangat lebat dimalam hari bersamaan dengan tingginya air pasang, membuat hampir seluruh rumah di Tanah Mas tergenang oleh banjir. Bersamaan dengan kenaikan pasang dan makin seringnya banjir pasang masuk ke perumahan, maka harga jual rumah menjadi stagnan. Makin seringnya banjir melanda Tanah Mas, jalan jalan lingkungan mulai rusak dan warga mulai berlomba meninggikan rumah mereka serta jalan lingkungan masing masing dan Tanah Mas dinobatkan sebagai Perumahan yang kumuh, dan banjir …. Rumah penulis yang sudah lebih 15 tahun tidak dihuni, saat ini kusen pintu depan posisinya sudah berada dibawah jalan, jadi jalan didepan rumah sudah dinaikkan lebih dari 2,5 m. sebagai perbandingan harga jual tanah tahun 2010, Tanah Mas sekitar 800.000 – 1.000.000 sedangkan tanah di Jalan Imam Bonjol sudah sekitar 3 – 5 juta … (malangnya investasi rumah di Tanah Mas).

2010, Tanah Mas masa depan …

Pemda mulai membangun beberapa Polder sebagai pengendali banjir Semarang bawah, khususnya Semarang diantara 2 sungai banjir kanal Barat dan Timur yang berhulu di daerah atas.

Polder yang dibangun di kawasan Tanah Mas Baruna (yang sempat menjadi perebutan siapa pemilik ganti rugi dari pemda, Pelindo sebagai pemegang HPL, atau PT. Tanah Mas sebagai pemilik Sertifikat HGB). Pembangunan Polder dengan dasar (kabarnya 7m dibawah permukaan laut) yang dilengkapi dengan pintu air serta akan dilengkapi dengan pompa yang debitnya cukup besar, tentunya akan memberi harapan bagi warga Semarang bawah umumnya dan warga Tanah Mas khususnya untuk bisa hidup tanpa banjir.

Rencana pemda yang kami dengar dari teman yang masih tinggal di Tanah Mas, setelah polder jadi dan berfungsi, maka sepanjang kali Semarang dan saluran yang membelah perumahan Tanah Mas, tepinya akan dipancang beton (site pile?) agar saat dasar sungai dikeruk sedalam 2-3 m tanah lunak dikiri dan kanan sungai (dibawah jalan dan rumah) tidak masuk lagi kedasar sungai.

Jika Polder yang dibangun Pemda bisa berfungsi dengan benar (tidak seperti Polder Tawang yang tidak bisa berfungsi sebagai pengendali banjir kawasan kota lama), maka perumahan Tanah Mas akan kembali menjadi kawasan Perumahan yang Ideal, seperti tahun 1970 an, lebih lebih saat ini perkembangan kawasan Simpang Lima, jalan Pemuda yang cukup pesat dengan dibangunnya beberapa Mall yang besar (menurut ukuran Semarang), Paragon dan DP Mall.

Semoga dengan kondisi banjir yang terkendali oleh akan selesainya Polder yang dibangun Pemda, kawasan Tanah Mas prospeknya akan lebih bagus dari Perumahan Tetangga yang pernah dituduh oleh teman-2 sebagai sumber banjirnya Tanah Mas dan Semoga penghuni Tanah Mas bisa lebih tenang dan nyaman untuk tetap tinggal di rumahnya, dan bisa membayangkan meningkatnya nilai investasi rumah mereka.

Dan rumah penulis dapat difungsikan kembali ataupun dijual dengan harga yang layak … :-P